Fajar belum menyingsing seutuhnya di Bandara Juanda, namun kehangatan sudah terasa di antara kerumunan jamaah berseragam batik senada. Wajah-wajah mereka memancarkan binar yang berbeda—campuran antara rasa haru, rindu yang membuncah, dan debar tak sabar. Hari itu adalah awal musim umroh, momen yang dinanti setelah berbulan-bulan pintu Baitullah tertutup untuk evaluasi pasca-musim haji.
Di tengah kerumunan itu, berkumpullah rombongan Chatour Travel.
Langkah Pertama di Bumi Suci
Memilih berangkat di awal musim adalah keputusan terbaik yang diambil oleh Pak Rahman dan istrinya. Kondisi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi relatif lebih lengang dibanding puncaknya di bulan Ramadhan atau akhir tahun.
Sejak di bandara keberangkatan, tim Chatour Travel telah menunjukkan kelasnya sebagai agen berpengalaman. Tidak ada drama paspor terselip atau kebingungan boarding pass. Semua dikoordinasikan dengan rapi oleh para Tour Leader yang sigap dan ramah.
"Bapak dan Ibu sekalian, niatkan perjalanan ini lillahi ta'ala. Masalah bagasi dan teknis, biarkan menjadi urusan kami. Tugas Anda hanya fokus beribadah," ucap sang Tour Leader menenangkan hati para jamaah yang sebagian besar baru pertama kali menginjakkan kaki ke tanah suci.
Penerbangan panjang pun tak terasa melelahkan. Begitu mendarat, bus eksklusif Chatour Travel sudah menyambut, siap mengantarkan rombongan menuju Madinah Al-Munawwarah, kota sang Nabi.
Keheningan Madinah dan Sapuan Angin Awal Musim
Madinah di awal musim umroh terasa begitu syahdu. Udara peralihan musim belum terlalu menyengat, memberikan kenyamanan ekstra bagi para jamaah lansia.
Chatour Travel menempatkan jamaah di hotel yang hanya sepelemparan batu dari pelataran Masjid Nabawi. Kemudahan ini membuat Pak Rahman bisa dengan mudah melangkah ke masjid setiap kali adzan berkumandang, tanpa perlu khawatir kelelahan.
Momen paling mengharukan terjadi saat mutawwif (pembimbing ibadah) dari Chatour memandu rombongan menuju Raudhah—taman surga. Karena awal musim, antrean tidak sepadat biasanya. Dengan bimbingan yang sabar, Pak Rahman dan jamaah lainnya bisa bersujud, menumpahkan segala doa dan air mata di tempat yang mustajab tersebut, tanpa rasa tergesa-gesa.
Labbaikallah di Pelataran Ka'bah
Setelah tiga hari mereguk kedamaian di Madinah, tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Di Miqat Dzulkulaifah (Bir Ali), rombongan mengenakan kain ihram. Gema talbiyah mulai mengangkasa, memecah kesunyian bus yang melaju menuju Makkah Al-Mukarramah.
$$ \text{"Labbaikallahumma Labbaik, Labbaikala Syarika Laka Labbaik..."} $$
Malam itu, di bawah bimbingan mutawwif Chatour Travel yang fasih dan penuh perhatian, rombongan memasuki Masjidil Haram. Ketika pandangan pertama lurus menatap keagungan Ka'bah yang hitam megah, runtuhlah sudah seluruh pertahanan hati. Air mata bahagia menetes.
Karena situasi awal musim yang belum padat sesak:
-
Thawaf dapat dilakukan dengan khusyuk, bahkan beberapa jamaah berkesempatan mendekati Hajar Aswad.
-
Sa'i antara Shofa dan Marwah berjalan lancar tanpa desak-desakan yang berarti.
-
Prosesi Tahallul menjadi penutup ibadah umroh yang sempurna malam itu. Rasa lelah fisik seketika menguap, digantikan oleh ketenangan jiwa yang luar biasa.
Kembali dengan Jiwa yang Baru
Hari-hari berikutnya di Makkah diisi dengan city tour mengunjungi Jabal Nur, Jabal Tsur, dan Padang Arafah. Semua difasilitasi oleh Chatour Travel dengan transportasi yang nyaman dan konsumsi makanan Indonesia yang cocok di lidah, mengobati rasa rindu rumah di sela-sela ibadah.
Ketika tiba waktunya melakukan Thawaf Wada' (perpisahan), ada rasa berat yang menggelayut di dada. Namun, mereka pulang membawa senyuman. Perjalanan umroh awal musim bersama Chatour Travel bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang teratur, khusyuk, dan membekas seumur hidup di dalam hati.