Ayah, Aku Rindu Makkah
Setiap sore, saat duduk di beranda rumah sambil melihat foto lama yang tergantung di dinding, kecil Rian selalu menarik tangan ayahnya. “Ayah, kapan kita ke sana lagi?” tanyanya sambil menunjuk gambar Ka'bah yang ada di dalam bingkai itu.
Ayah tersenyum lembut, mengusap kepala anaknya. “Kamu rindu ya, Nak?”
“Iya banget,” jawab Rian dengan mata berbinar. “Aku rindu suara doa yang bergaung, rindu orang-orang yang saling tersenyum meski tidak saling kenal, rindu melihat Ka'bah yang megah itu. Dulu waktu aku masih kecil, Ayah gandeng tanganku, kita berjalan menuju sana. Rasanya damai sekali, ya?”
Ingatan itu kembali teringat jelas di benak ayah. Waktu itu Rian masih berusia lima tahun, kecil dan bersemangat, berjalan sambil memegang tangan ayahnya erat-erat. Di depan mereka, Ka'bah berdiri gagah di tengah lautan manusia, tempat hati-hati yang merindukan Tuhan berkumpul. Udara di sana terasa berbeda, penuh berkah dan kehangatan, seolah setiap langkah yang diambil membawa kedamaian yang tak terlukiskan kata-kata.
“Dulu Ayah janji, suatu saat kita akan kembali bersama, membawa seluruh keluarga, ibumu juga,” ucap ayah pelan. “Perjalanan itu bukan hanya tentang sampai ke tempat suci, tapi tentang kebersamaan kita, beribadah bersama orang yang kita cintai.”
Rian menatap ayahnya dengan penuh harap. “Ayah, aku sudah besar sekarang. Aku ingin kembali ke Makkah, ingin berjalan lagi bersamamu, ingin berdoa bersama di tempat yang suci itu. Aku ingin merasakan lagi rasa rindu yang terobati, rasa damai yang hanya ada di sana.”
Ayah mengangguk, matanya berbinar haru. “Janji Ayah, Nak. Kita akan pergi lagi. Kita akan jalan berdua, sama seperti dulu. Kita akan menginjakkan kaki kembali ke tanah suci, melakukan ibadah bersama, dan menumpuk kenangan indah baru. Karena Makkah bukan sekadar tempat, tapi rumah bagi hati yang beriman, dan kebersamaan kita adalah anugerah terindah yang bisa kita bawa ke sana.”
Hari itu, keinginan itu semakin kuat di hati keduanya. Rindu pada Makkah, rindu pada suasana suci, dan rindu untuk kembali berjalan bergandengan tangan—ayah dan anak, menuju tempat yang menjadi impian setiap umat Islam, tempat di mana kasih sayang dan iman bertemu dalam satu kedamaian abadi.