Matahari di atas Masjidil Haram rasanya seperti persis di atas kepala, bersinar terik banget sampai-sampai udara di sekitar Ka'bah kelihatan bergetar karena hawa panas. Suhu siang itu mungkin sudah menyentuh angka kepala empat, tipe cuaca yang kalau kita jalan di aspal, rasanya sandal bisa agak lengket.
Tapi anehnya, suasana di pelataran Ka'bah sama sekali enggak sepi. Justru sebaliknya, tempat itu penuh sesak oleh lautan manusia yang sedang asyik "terenyuh" dalam ibadah umroh mereka.
Di antara ribuan jemaah itu, ada Ahmad. Dengan kain ihram putih yang melilit tubuhnya, Ahmad menyeka keringat yang sedari tadi mengalir deras dari dahi, lalu menetes melewati pipinya. Jujur, rasanya gerah luar biasa. Setiap kali kakinya melangkah di atas lantai marmer putih pelataran masjid, ada sensasi hangat yang menjalar. Untungnya, marmer Masjidil Haram punya teknologi khusus yang bikin lantai enggak sewarna aspal panasnya, tapi tetap saja, hawa panas dari atas enggak bisa didebat.
"Sabar, ini ujian sekalian penggugur dosa," bisik Ahmad dalam hati, mencoba menyemangati diri sendiri sambil terus melangkah melakukan tawaf.
Di sebelahnya, ada seorang ibu-ibu setengah baya yang sejak tadi sibuk mengipasi wajahnya dengan kipas lipat anyaman. Tangan kirinya memegang payung kuning terang yang kontras banget dengan birunya langit Makkah hari itu. Di rombongan lain, terlihat jemaah perempuan yang buru-buru merogoh tas kecilnya, mengambil botol air Zamzam dingin, lalu meneguknya dengan sangat nikmat. Glek, glek, glek. Ekspresi wajahnya setelah minum itu kelihatan lega banget, seolah-olah semua rasa dahaga langsung menguap begitu saja.
Pemandangan di sekeliling Ahmad siang itu memang unik. Kalau dilihat dari atas, pelataran Ka'bah itu seperti kanvas putih yang dipenuhi payung warna-warni—ada yang merah, kuning, hijau, dan putih. Semua orang punya cara masing-masing buat "survive" dari sengatan matahari, tapi hebatnya, enggak ada satu pun yang ngedumel atau pasang wajah cemberut.
Di tengah pusaran manusia yang kepanasan itu, berdiri Ka'bah dengan begitu gagah. Kain kiswah hitamnya yang elegan berpadu indah dengan kaligrafi emas yang berkilauan diterpa sinar matahari. Di kejauhan, menara-menara masjid yang megah dan Makkah Royal Clock Tower berdiri kokoh, seolah menjadi saksi perjuangan jutaan umat manusia hari itu.
Saat putaran tawafnya selesai, Ahmad menepi ke area yang agak teduh di bawah koridor masjid. Begitu angin sepoi-sepoi meniup kain ihramnya yang agak basah oleh keringat, rasanya nikmat sekali. Dia melihat kembali ke arah Ka'bah, melihat orang-orang yang masih berjuang di bawah terik matahari.
Ahmad tersenyum kecil. Rasa capek dan panas di fisiknya mendadak kalah total sama rasa bahagia dan damai di hatinya. Di tempat sesuci ini, hawa panas ekstrem sekalipun ternyata justru berubah jadi bumbu cerita perjuangan yang bikin momen umroh ini enggak bakal bisa dia lupakan seumur hidup.