Matahari baru saja terbit di ufuk timur ketika rombongan kecil itu menghentikan unta-unta mereka. Setelah menempuh perjalanan berhari-hari melintasi gurun pasir yang gersang dan penuh ancaman dari kejaran kaum kafir Quraisy, rona kebahagiaan akhirnya terpancar. Di sana, di sebuah perkampungan subur bernama Quba yang berjarak sekitar kilometer dari pusat kota Yathrib (Madinah), Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq disambut dengan suka cita yang luar biasa oleh penduduk kaum Ansar.
Peristiwa hijrah tahun 622 Masehi ini bukan sekadar pelarian, melainkan babak baru peradaban Islam. Di tempat persinggahan pertamanya inilah, Rasulullah SAW memutuskan untuk meletakkan batu pertama dari sebuah bangunan yang kelak menjadi tonggak sejarah yang tak akan pernah terlupakan: Masjid Quba.
Fondasi yang Dibangun Atas Dasar Ketakwaan
Bayangkan sebuah lanskap sederhana di masa lalu. Jauh sebelum dinding-dinding marmer putih dan menara-menara tinggi yang kita lihat hari ini berdiri kokoh, Masjid Quba hanyalah sebuah bangunan yang sangat bersahaja.
Rasulullah SAW sendiri yang ikut mengangkat batu-batu berat, mengaduk tanah liat, dan menyusun pelepah kurma untuk atapnya. Ketika para sahabat iba melihat beliau kelelahan dan menawarkan diri untuk menggantikannya, Rasulullah SAW menolak dengan lembut. Beliau ingin ikut berkeringat bersama umatnya dalam membangun rumah ibadah pertama ini.
Setiap jengkal tanahnya dibangun dengan satu niat murni. Begitu sucinya tempat ini, hingga Allah SWT mengabadikannya dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 108:
"Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya..."
Selama beberapa hari di Quba, masjid ini menjadi pusat kehidupan masyarakat. Tempat di mana kumandang azan pertama kali menggetarkan hati penduduk desa, tempat strategi dakwah disusun, dan tempat di mana persaudaraan antara kaum Muhajirin (para imigran dari Makkah) dan kaum Ansar (penduduk asli Madinah) mulai diikat dengan begitu erat.
Dari Pelepah Kurma Menjadi Mahakarya Megah
Waktu terus bergulir, dan Islam berkembang ke seluruh penjuru dunia. Seiring berjalannya waktu, struktur bersahaja yang dibangun dari tanah liat dan pohon kurma itu mulai bersolek tanpa kehilangan nilai spiritualnya.
Berbagai khalifah dan pemimpin Islam dari abad ke abad terus memperluas dan mempercantik Masjid Quba:
-
Khalifah Utsman bin Affan melakukan renovasi pertama untuk memperkokoh bangunannya.
-
Khalifah Umar bin Abdul Aziz membangun menara pertama yang membuat adzan terdengar lebih jauh.
-
Di era modern (Kementerian Urusan Islam Arab Saudi), masjid ini disulap menjadi mahakarya arsitektur Islam modern.
Jika Anda berkunjung ke sana hari ini, Anda akan disambut oleh bangunan megah berwarna putih bersih dengan empat menara tinggi yang menjulang ke langit, serta puluhan kubah kecil yang memesona. Bagian dalamnya dilapisi karpet tebal yang nyaman, berpadu dengan pencahayaan syahdu yang membuat siapapun betah berlama-lama bersujud di dalamnya.
Keutamaan yang Menyamai Ibadah Umrah
Bagi para jemaah haji atau umrah, mengunjungi Masjid Quba bukan sekadar wisata sejarah biasa. Ada kerinduan spiritual yang mendalam yang menuntun langkah kaki mereka ke sana. Hal ini tidak lepas dari janji yang pernah diucapkan oleh Rasulullah SAW sendiri:
"Barangsiapa yang bersuci (berwudhu) di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba, lalu shalat di dalamnya dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala umrah." (HR. Tirmidzi)
Sampai hari ini, setiap hari Sabtu, banyak penduduk Madinah dan peziarah yang mengikuti tradisi Rasulullah SAW—yaitu sengaja datang ke Masjid Quba, baik dengan berkendara maupun berjalan kaki melalui jalur khusus pejalan kaki (Quba Walking Path) yang menghubungkannya langsung dengan Masjid Nabawi, demi menjemput berkah spiritual yang luar biasa tersebut.
Masjid Quba bukan sekadar tumpukan batu dan semen yang megah. Ia adalah saksi bisu dari tetesan keringat Rasulullah SAW, simbol dari awal mula kejayaan Islam, dan tempat di mana ketakwaan pertama kali ditanamkan dalam bentuk sebuah bangunan fisik. Sinar putihnya yang benderang di siang hari seolah terus mengingatkan umat manusia tentang sebuah pesan abadi: bahwa segala sesuatu yang dibangun atas dasar takwa, tidak akan pernah lekang oleh waktu.