Kisah di Balik Masjid Aisyah: Asal-Usul Miqat Tan'im
Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat Kota Makkah ketika suasana haru sekaligus bahagia menyelimuti hati ratusan ribu kaum Muslimin. Ibadah Haji Wada’—haji perpisahan bersama Rasulullah SAW—baru saja usai dilaksanakan dengan khidmat. Namun, di salah satu sudut perkemahan, suasana hati yang berbeda sedang dirasakan oleh Ummul Mukminin, Aisyah binti Abu Bakar RA.
Aisyah duduk termenung dengan mata yang berkaca-kaca. Ada kesedihan yang mendalam di wajahnya. Ketika seluruh sahabat dan istri-istri Nabi yang lain bersukacita karena telah menyelesaikan rangkaian ibadah haji sekaligus umrah, Aisyah justru merasa ada yang mengganjal di dadanya.
Kesedihan Sang Ummul Mukminin
Sebelum memasuki kota Makkah untuk melaksanakan ibadah, Aisyah mengalami siklus bulanan (haid). Karena kondisinya tersebut, Rasulullah SAW melarangnya untuk melakukan tawaf di Ka'bah. Beliau bersabda:
"Lakukanlah apa yang dilakukan oleh seorang yang berhaji, kecuali tawaf di Ka'bah sampai engkau suci."
Aisyah pun mematuhi perintah tersebut dengan sabar. Ia melaksanakan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan melontar jumrah. Namun, karena kondisi tersebut, ia tidak sempat melaksanakan ibadah umrah yang digabungkan dalam niat hajinya (Haji Qiran). Ketika ia akhirnya suci dari haid, rangkaian ibadah haji secara keseluruhan telah selesai.
Melihat saudara-saudaranya pulang dengan membawa pahala haji dan umrah yang sempurna, Aisyah tidak dapat membendung rasa sedihnya. Ia menghadap Rasulullah SAW dan mengadu dengan suara yang bergetar:
"Wahai Rasulullah, orang-orang pulang dengan membawa pahala haji dan umrah sekaligus, sedangkan aku hanya pulang dengan membawa pahala haji saja?"
Kasih Sayang Rasulullah dan Perintah Menuju Tan'im
Rasulullah SAW, yang dikenal sebagai sosok suami yang penuh kelembutan dan pengertian, memandang istrinya dengan penuh kasih sayang. Beliau tidak ingin Aisyah pulang ke Madinah dengan hati yang gundah.
Maka, untuk menenangkan dan memuliakan Aisyah, Rasulullah SAW memanggil saudara laki-laki Aisyah, Abdurrahman bin Abu Bakar. Beliau bersabda kepada Abdurrahman:
"Bawalah saudaramu ini keluar dari Tanah Haram menuju Tan'im. Biarkan dia berihram untuk umrah dari sana, kemudian dampingi dia menyelesaikan umrahnya."
Mendengar perintah tersebut, wajah Aisyah langsung berubah cerah. Rasa sedih yang menggelayuti hatinya seketika sirna, berganti dengan rasa syukur yang mendalam.
Perjalanan Menuju Perbatasan Tanah Haram
Malam itu juga, di bawah saksi langit malam jazirah Arab yang bertabur bintang, Abdurrahman bin Abu Bakar menuntun unta yang dikendarai adiknya, Aisyah. Mereka berjalan keluar dari batas Kota Makkah sejauh kurang lebih 7,5 kilometer ke arah utara, menuju sebuah tempat bernama Tan'im.
Tan'im adalah titik terdekat dari garis batas luar Tanah Haram (tanah suci) menuju Tanah Halal (tanah biasa). Di sanalah, di bawah pohon-pohon kurma yang tumbuh di wilayah tersebut, Aisyah binti Abu Bakar mandi sunah, mengenakan pakaian ihramnya, dan mengikrarkan niat umrahnya:
"Labaikallahumma Umratan..." (Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk berumrah...)
Dari tempat itulah kalimat talbiyah kembali menggema dari lisan Aisyah. Mereka kemudian kembali ke Masjidil Haram untuk menyelesaikan ibadah umrah Aisyah dengan melakukan tawaf dan sai. Umrah tersebut diselesaikan dengan sempurna, membawa kebahagiaan yang tiada tara bagi sang Ummul Mukminin.
Warisan Sejarah yang Abadi
Peristiwa khusyuk di malam itu tidak hanya menjadi pelipur lara bagi Aisyah, tetapi juga menorehkan sejarah besar dalam syariat Islam. Tempat di mana Aisyah mengambil niat ihramnya di Tan'im kemudian diabadikan oleh umat Islam.
Di titik tersebut dibangun sebuah masjid yang megah, yang kini kita kenal sebagai Masjid Aisyah (atau Masjid Tan'im).
Hingga hari ini, Masjid Aisyah berdiri kokoh dengan arsitekturnya yang indah, berfungsi sebagai tempat miqat resmi bagi penduduk Makkah atau para jamaah haji dan umrah yang ingin mengambil niat umrah sunah berulang kali. Setiap jengkal tanah di masjid tersebut menjadi saksi bisu atas kasih sayang Rasulullah kepada istrinya, sekaligus kemudahan (rukhsah) yang diberikan Islam bagi umatnya.